Dua Jalur Pertumbuhan Kepemimpinan

Sebab indikator kepemimpinan di elit Bani Israil selalu berupa kekayaan, tetapi Nabi mereka mengatakan:

قَالَ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهٗ بَسْطَةً فِى الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۗ وَاللّٰهُ يُؤْتِيْ مُلْكَهٗ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“’Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 247)

Isthafaahu…menandakan mauhuubah, karena merupakan pilihan Allah, kemudian sang mauhuubah (pemimpin pilihan) dibekali dengan kelebihan berupa kekuatan ilmu dan fisik sebagaimana yang nampak dalam sosok Thalut. Thalut pun kemudian memimpin jihad fii sabiilillah dalam rangka melawan Jalut sebagaimana dikisahkan dalam surat al-Qur’an.

Oleh karena itu hal yang ingin saya garis bawahi adalah bahwa proses penokohan yang pertama adalah mauhuubah yang tidak selalu harus dalam satu garis keturunan. Memang ada mauhuubah yang berasal dari garis keturunan Nabi Sulaiman yang berada di garis keturunan Nabi Daud, namun ada juga yang bukan, seperti tokoh Thalut. Hal yang utama adalah bahwa kemampuan kepemimpinan mereka merupakan mauhuubah atau sesuatu yang given sebagai karunia dari Allah.

Sifat-sifat kepemimpinan jenis mauhuubah ini ditampilkan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an dalam beberapa versi di antaranya versi Thalut dan versi Musa.

žاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ

“…karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (Q.S. Al-Qashash: 26)

Kata qawiyy yang diutarakan oleh kedua putri Nabi Syu’aib adalah bentuk pujian kepada Nabi Musa yang mengacu kepada ‘basthatan fil ‘ilmi wal jism’, kekuatan dari segi ilmu dan fisik. Sedangkan kata al-amiin mengacu kepada kekuatan ma’nawiyah, mentalitas dan integritas pribadinya.

Laman: 1 2 3 4