BATAM – Ada kisah lain di balik penyerahan bantuan untuk Pondok Pesantren An-Ni’mah. Musibah kebakaran yang melanda pesantren tersebut ternyata tidak hanya menghadirkan kepedulian, tetapi juga mempertemukan kembali hubungan persaudaraan yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Pimpinan Pondok Pesantren An-Ni’mah, KH Aryanto Rosyad, mengungkapkan bahwa hubungan antara keluarga besar pesantren dan sejumlah tokoh yang kini berada di lingkungan PKS telah terjalin sejak 1995, jauh sebelum PKS berdiri sebagai partai politik.
Saat itu, sejumlah tokoh yang kini berada di lingkungan PKS sudah sering berkumpul dan menjalin kebersamaan dengan keluarga besar pesantren.
Seiring berjalannya waktu, komunikasi yang dahulu terjalin erat sempat berkurang karena kesibukan dan berbagai keadaan. Namun, musibah kebakaran justru menjadi momentum untuk kembali mempererat tali silaturahmi.
“Sejarah PKS dengan An-Ni’mah ini sebenarnya sangat dekat. Sejak 1995 kami sudah bersama. Sebelum adanya partai, kami sudah berkumpul dan menjalin kebersamaan di sini,” kenang KH Aryanto.
Menurutnya, musibah merupakan bagian dari perjalanan kehidupan yang bisa datang kapan saja dan dalam bentuk apa pun. Meski tidak pernah diharapkan, setiap peristiwa terkadang menyimpan hikmah yang dapat mempererat hubungan antarsesama.
“Musibah bisa datang kapan saja dan dalam bentuk apa saja. Namun, dari musibah ini ternyata ada hikmah yang besar bagi kita bersama. Salah satunya, kita bisa bertemu kembali dan menjalin silaturahmi,” ujarnya.
KH Aryanto juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar DPD PKS Kota Batam, para kader, simpatisan, serta seluruh pihak yang telah memberikan perhatian dan bantuan kepada pesantren.
Ia berharap setiap bantuan dan kebaikan yang diberikan menjadi amal jariyah serta mendapatkan balasan berlipat ganda dari Allah SWT.
Kebakaran yang melanda Pondok Pesantren An-Ni’mah memang meninggalkan kerusakan pada bangunan dan fasilitas asrama. Namun, semangat untuk melanjutkan pendidikan dan dakwah tidak boleh ikut padam.
Bagi keluarga besar pesantren, perhatian dan kepedulian dari berbagai pihak menjadi kekuatan tersendiri untuk bangkit dan memulihkan kondisi pesantren.
Bantuan yang dihimpun dari kader dan simpatisan PKS Batam mungkin belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pemulihan. Namun, bantuan tersebut menjadi wujud kepedulian dan kebersamaan dalam meringankan beban keluarga besar pesantren.
Di antara puing-puing bangunan yang terbakar, ada sesuatu yang tidak ikut hangus, yakni semangat persaudaraan dan harapan untuk kembali membangun.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak harus menunggu seseorang memiliki kelebihan. Sebab, dari kontribusi kecil yang dikumpulkan bersama, dapat hadir bantuan yang berarti bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan.***





